Syaikh Dr. Abdul ‘Adzhim Badawi hafidzhahullah

Sore kemarin, saya dan teman2 diberikan kesempatan untuk bisa menghadiri kajian bersama Syaikh Dr. Abdul ‘Adzhim Badawi hafidzhahullah. Kajian bertempat di Masjid Syuhada Yogyakarta.

Sore hari, diiringi hujan yang deras kemudian gerimis, saya yang memang tak ada mantol karena tertinggal di rumah, akhirnya datang agak terlambat. Mungkin sudah jalan hampir setengah acara. Ketika saya mendengarkan ceramah beliau yang sangat menggebu, menyesallah saya kenapa tidak datang tepat waktu. Saya mendengar bagaimana setiap kata2 yang beliau ucapkan begitu mendalam maknanya. Hampir setiap kata yang disampaikan tak ada yang sia-sia. Ya, demikianlah sifat seorang ulama’ ahlussunnah, kata2nya senantiasa ditimbang dengan mizan Qur’an dan Sunnah.

Tema yang beliau bawakan pada sore kemarin adalah tentang kiat Meraih Cinta Allah. Lagi-lagi tema tentang Tazkiyatun Nufus yang notabene sangat saya suka. Mengingatkan hati akan banyaknya dosa, dan ajakan untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala. Saya masih teringat dengan salah satu perkataan Syaikh Hafidhahullah.

Jika ada yang bertanya, “Apakah tanda yang mengindikasikan bahwa Allah mencintai kita?”

Beliau katakan, “Di antara tanda bahwa Allah mencintai seorang hamba adalah Dia memberikan taufik kepada hamba tersebut untuk senantiasa melakukan amal sholeh.”

Subhaanallah, ingatlah diri ini akan banyaknya amal sholeh yang masih terlupa dan bahkan belum dikerjakan secara sempurna.. Seringkali kita katakan, “Aku cinta Allah”, namun jarang sekalii kita mengonstrospeksi diri, “Apakah Allah mencintai kita?”

Intinya, saya sangat bersyukur bisa mendatangi majelis kemarin, dan berharap bisa memutar ulang rekaman beliau dari awal sampai akhir. Bagi saudaraku yang juga ingin menyimaknya, Insyaa Allah akan diupload di website radiomuslim.com

 

Betapa Mengagumkan Bakti Ulama pada Ayah dan Ibunya

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Wahai saudaraku yang semoga selalu dirahmati Allah, tahukah kalian bahwa perkara berbakti kepada kepada orangtua merupakan perkara yang mulia lagi agung. Dan sudah sepantasnya bagi saudaraku yang senantiasa berpegang teguh dengan agama ini, untuk mengetahui serta memahami apa saja hak-hak orangtua yang seharusnya kita penuhi. Terlebih lagi jika kita telah mendapati kedua orangtua kita sudah dalam keadaan tua renta lagi tak punya daya dan tenaga sebagaimana ketika mereka masih muda.

Ketahuilah, Allah ta’ala telah memerintahkan kita untuk berbakti kepada orangtua serta tidak menyakiti perasaan mereka meski dengan ucapan, apatah lagi dengan perbuatan. Allah ta’ala berfirman dalam ayat-Nya,

 “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ”Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya, karena mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al-Israa’: 23-24). Continue reading

Jurus Jitu Mendidik Anak

Kajian ilmiah bagi seluruh kaum muslimin terkhusus para orang tua dan guru, dengan tema “Jurus Jitu mendidik Anak”  insya Allah di selenggarakan pada:

Hari / Tanggal : Jum’at, 2 Desember 2011
Waktu : Ba’da maghrib – 20.30 WIB
Pembicara : Ustadz Abdullah Zaen, MA. hafidzhahullahu (Alumni S2 Universitas Islam Madinah, KSA )
Tempat:  Masjid Kampus UGM

Informasi: 08156877677 (Rajendra)

Kajian ini diselengarakan oleh Radio Muslim dan Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsary, Yogyakarta

 

taken from : muslim.or.id

Antara Ayah, Anak, dan Seekor Keledai

Pagi hari kemarin, saat mendengarkan streaming radiorodja, saya dibuat terkesima dengan sebuah kisah yang diceritakan oleh  ustadz yang mengisi tausiyah. Cerita ini terkait dengan anjuran agar kita tidak memperhatikan pujian maupun keinginan orang lain terhadap apa yang kita lakukan. Tentu saja hal ini harus diletakkan pada tempat yang tepat. Beginilah sekilas ceritanya, yang saya ambil secara makna, bukan lafalnya.

Continue reading

Yang Selalu Dirindu

Dialah

Yang selalu dirindu oleh orang-orang yang setia

Yang selalu dinanti hadirnya oleh orang yang bersih hatinya

Dialah sang pemilik wajah teduh, yang tak seorang dari sahabatnya yang berani menatapkan pandangan mata kepadanya

Dialah, yang dengan memandang wajahnya maka ingatlah diri akan nikmatnya bercengkerama di surga dan alangkah pedihnya siksaan di neraka Continue reading

Semarak Kajian Rutin @Kota Yogyakarta

Bagi teman-teman yang berdomisili di Jogja terutama sekitar kampus UGM dan UNY, yuk rame-rame ikut kajian.

 

KAJIAN KHUSUS PUTRA

SENIN

Materi             : Penjelasan Hadits-Hadits Pilihan

Pemateri         : Ustadz Abu Sa’ad, M.A.

Waktu             : Ba’da Maghrib – 20.00 WIB

Tempat           : Masjid Siswa Graha Pogung Kidul

SELASA

Materi             : Penjelasan Kitab Tauhid

Pemateri         : Ustadz Afifi Abdul Wadud

Waktu             : Ba’da Maghrib – 20.00 WIB

Tempat           : Masjid Al-‘Ashri Pogung Rejo

Continue reading

Hasyiyah Tsalatsatil Ushul *hal 11-13*

Petunjuk untuk pembaca:

Kalimat yang dicetak tebal adalah matan asli dari Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab. Adapun kalimat yang dijelaskan di bawahnya adalah syarah dari Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad Al-Qasimi.

Berikut ini adalah lanjutan dari terjemahan kitab Hasyiyah Ushuluts Tsalatasah halaman 11-13. Selamat membaca.

Ibnul Qoyyim berkata:

Jihad diri itu ada 4 macam, yaitu:

  1. Berjihad dalam mempelajari petunjuk dan agama yang benar yang seseorang tidaklah akan beruntung dan merasakan kebahagiaan dalam hidupnya kecuali dengan mempelajari hal tersebut. Sehingga ketika seseorang tidak mau mempelajari ilmu, maka celakalah dia di dunia hingga di akhirat.
  2. Berjihad untuk mengamalkan imu yang telah dipelajari, dikarenakan jika ilmu itu tidak diamalkan, maka tidak akan memberikan bahaya maupun manfaat bagi dirinya. Continue reading