Duhai Diri Apa yang Kan Kau Ucapkan Nanti?

Bila anda perhatikan kondisi kebanyakan orang saat sakaratul maut menjemput, anda akan melihat bahwa mereka terhalangi untuk mendapatkan husnul khatimah, sebagai hukuman akibat perbuatan perbuatan jelek mereka.
Al-hafizh Abu Muhammad Abdul Haq bin Abdurrahman Asy-syibli berkata ( ): “ketahuilah bahwa su’ul khatimah itu ( semoga Allah menjauhkan kita darinya ) mempunyai beberapa penyebab. Ada jalan-jalan dan pintu-pintu yang menghantarkan kepadanya. Penyebab, pintu dan jalan yang paling besar adalah larut dalam urusan keduniaan, tidak perhatian dalam urusan akhirat dan berani maksiat kepada Allah. Bisa saja ada seseorang yang sudah terbiasa melakukan kesalahan atau maksiat tertentu, sehingga menguasai hatinya, akalnya tertawan oleh kebiasaan tersebut, pelita hatinya padam dan terbentuklah hijab yang menutupinya. Akibatnya, teguran tidak lagi akan berguna, nasihat tidak lagi akan bermanfaat dan bisa saja kematian datang menjemput saat dia dalam keadaan demikian. Lalu datanglah panggilan kebaikan dari subuah tempat yang jauh, namun dia tidak dapat memahami maksudnya. Dia tidak tahu apa yang diinginkan oleh panggilan itu, sekalipun orang yang meneriakkan panggilan itu terus mengulangi dan mengulanginya lagi”.

Diriwayatkan, bahwa ada seorang dari anak buah An Nashir ( salah seorang pemimpin di masa Mamlukiyyah) yang sedang didatangi oleh sakaratul maut, kemudian anaknya berkata : “ ucapkanlah, laa Ilahaa Illallah !” orang itu berucap : “An Nashir adalah tuanku.” Diulangilah permintaan itu kepadanya, namun jawaban orang itu tetap sama. Tiba-tiba orang itu tidak sadarkan diri dan setelah dia siuman dia berucap lagi : “ An Nashir adalah tuanku”. Begitulah terus menerus setiap kali dikatakan kepadanya ucapan : “ laa Ilaaha Illallah” dia malah berucap : “ An Nashir adalah tuanku”. Kemudian ia berkata kepada anaknya : “ Hai fulan, sesungguhnya An Nashir itu dapat mengenalmu hanya dengan pedang dan keberanianmu membunuh ( berperang )”. Kemudian dia meninggal dunia.

Abdul Haq berkata : “ pernah dikatakan juga kepada orang lain ( yang saya mengenalnya ) ucapkanlah : laa Ilaaha Illallah dia malah berucap : “ tolong rumah yang di sana itu diperbaiki, dan kebun yang di sana itu dikerjakan…”
Abdul Haq juga berkata : “di antara riwayat dari Abu thahir As Silafiy yang mana dia telah mengizinkan aku untuk meriwayatkannya, yaitu subuah kisah dimana ada seorang pria yang sedang sakaratul maut, kemudian dikatakan kepadanya : ucapkanlan ‘laa Ilaaha Illallah’ namun dia malah mengatakan kata-kata dengan bahasa Persia yang artinya ‘ sepuluh dengan sebelas( maksudnya, boleh berutang sepuluh tapi bayarnya sebelas, pent)
Dan pernah dikatakan pula pada orang lain : ucapkanlah laa Ilaaha Illallah dia malah mengatakan “ mana jalan ke pemandian manjab? ( nama pemandian ).”
Kata Abdul Haq : jawaban yang diucapkannya itu ada ceritanya. Suatu ketika ada seorang pria yang sedang berdiri di depan rumahnya. Rumah tersebut pintunya menyerupai pintu sebuah tempat pemandian, tiba-tiba di situ lewat wanita cantik dan bertanya, ‘mana jalan ke pemandian manjab ? dia menjawab (sambil menunjuk ke pintu rumahnya) , ini dia pemandian manjab itu! Maka, wanita itu pun masuk ke dalam rumahnya sampai kebelakang. Setelah dia sadar terjebak di rumah sang pria dan tahu bahwa dia sedang ditipu, dia pura-pura menampakkan rasa gembira dan suka cintanya karena pertemuannya dengan pria itu. Kemudian wanita itu berkata, ‘ sebaiknya (sebelum kita berkumpul ) engkau harus mempersiapkan untuk kita apa-apa yang dapat membuat keindahan kehidupan kita sekaligus menyenangkan hati kita’. Dengan segera pria itu menjawab,’ sekarang juga aku akan membawakan untukmu semua apa yang kami inginkan dan kamu senangi’. Lalu dia pergi ke luar dan meninggalkan si wanita dalam rumah, namun tidak menguncinya. Kemudia ia mengambil apa yang dia bisa bawa lalu kembali ke rumahnya. Tapi sayang si wanita itu telah keluar dan pergi. Sedikitpun wanita itu tidak mengambil apa- apa dari rumahnya. Pria itu akhirnya mabuk kepayang dan selalu ingat pada wanita itu tadi. Dia berjalan di lorong-lorong dan gang-gang sambil mengatakan :

يا رب قائلة يوما وقد تعبت كيف الطريق إلى حمام منجاب ؟

Wahai Tuhan mana wanita yang mengatakan suatu hari dalam kondisi capek: mana jalan kepemandian munjab?

Suatu saat , waktu dia mengucapkan bait syair tadi, ada seorang wanita berkomentar dari jendela pintu rumahnya :

هلا جعلت سريعا إذ ظفرت بها حرزا على الدار أو قفلا على الباب

Mengapa di saat sudah mendapatkannya tidak dengan segera engkau menutup rumah itu atau mengunci pintunya ?

Mendengar itu ia tambah mabuk kepayang. Begitulah terus kondisinya sehingga bait syair itu menjadi kata-kata terakhirnya saat meninggal dunia.”

Suatu malam, sufyan Ats- tsauri menangis sampai pagi. Di pagi itu ada yang bertanya kepadanya: “ adakah semua yang kau lakukan ini karena takut akan dosa ?” lalu sufyan mengambil segenggam tanah seraya berkata : “ dosa itu lebih ringan dari batu ini, aku menangis karena takut akan su’ul khatimah.”
Sungguh, ini adalah pemahaman yang baik, bila seseorang itu khawatir akan dosa-dosanya akan mebuatnya terhina di kala meninggal dunia nanti, sehingga dia terhalang untuk memperoleh husnul khatimah.
Al Imam Ahmad pernah menyebutkan bahwa Abu Darda’ di saat sakaratul maut datang, dia pingsan tak sadarkan diri, kemudian dia siuman dan membaca :

ونقلب أفئدتهم وأبصارهم كما لم يؤمنوا به أول مرة ونذرهم في طغيانهم يعمهون

“ Dan (begitulah ) kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya pada permulaannya, dan kami biarkanmereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat” (QS. Al An’am : 110)

Dan oleh karena itu, para ulama salaf khawatir kalau dosa-dosa itu dapat menghalangi mereka untuk memperoleh husnul khatimah.

Abdul Haq juga berkata : “ ketahuilah bahwa su’ul khatimah itu ( semoga kita dilindungi oleh Allah darinya ) tidak akan terjadi pada orang yang dasarnya sudah rusak atau senantiasa melakukan dosa besar dan mengerjakan kemaksiatan. Barang kali itu menjadi kebiasaannya, sehingga kematian datang menjemputnya sebelum sempat bertaubat, akhirnya dia meninggal sebelum memperbaiki dirinya, urat nadinya dicabut sebelum dia kembali kepada Allah, sehinga saat itu setan berhasil merenggut dan menyambarnya disaat yang genting tersebut. Na’udzu billah!”

Diriwayatkan bahwa di mesir dulu ada seseorang yang selalu pergi ke masjid untuk adzan dan melakukan shalat. Wajahnya berwibawa dan penuh cahaya ibadah. Suatu hari dia naik ke menara seperti biasanya untuk adzan, di bawah menara itu ada rumah seorang nashrani, dia melongok ke dalam rumah tersebut, dan melihat anak perempuan pemilik rumah itu, akhirnya ia tergoda dengannya, lalu dia tinggalkan adzan saat itu, dan turun untuk menemuinya, dan masuk ke dalam rumahnya. Anak perempuan itu bertanya : “ ada apa, apa yang kamu inginkan ?” Dia menjawab : Aku menginginkan kamu. Dia bertanya lagi : “mengapa demikian ?” dia menjawab : “ sungguh engkau telah menawan jiwaku dan menguasai seluruh relung hatiku.” Perempuan itu berkata : “ Aku tidak akan pernah memenuhi keinginanmu selamanya.” Pria tadi menjawab : “ aku akan mengawinimu lebih dahulu.” Perempuan itu berkata : “engkau seorang muslim, aku nashrani, ayahku tidak akan mengawinkan aku denganmu.” Lelaki itu berkata: “ aku akan masuk agama Nashrani!” Maka wanita itu berkata : “ jika kamu lakukan itu, maka aku mau!” akhirnya lelaki itu resmi masuk Nashrani agar dapat kawin dengannya. Diapun tinggal bersama mereka. Dan pada hari itu, dia naik loteng yang ada di rumah tersebut, kemudian jatuh dan langsung mati.
Kasihan, dia tidak berhasil mendapatkan perempuan tersebut dan dia kehilangan agamanya.

Diriwayatkan pula, ada seorang laki-laki yang senang kepada seseorang. Kesenangan dan kecintaannya sangat kuat, sehingga mampu menguasai hatinya. Bahkan, dia sampai jatuh sakit dan harus tidur istirahat karenanya. Sementara orang yang dicintai itu tidak mau menemuinya. Dia benar-benar tidak suka dan menjauh darinya. Sementara itu orang-orang berusaha mempertemukan keduanya, sehingga ia berjanji untuk menemuinya. Orang-orang datang membawa kabar tersebut, diapun gembira dan sangat bersuka cita. Kesempitan di dadanya terasa hilang. Jadilah ia menunggu waktu yang ditentukan untuknya. Di saat itu, tiba-tiba datang orang yang akan mempertemukan keduanya, lalu menyampaikan : “dia sudah berangkat bersamaku sampai di tengah perjalanan, namun dia kembali lagi. Aku terus mendorong dan merayunya, tapi dia berkata : “ orang itu ingat dan menyebut-nyebut aku dan dia pun bergembira dengan kedatanganku. Namun aku tidak akan masuk ke tempat yang meragukan. Aku tidak akan mempersembahkan diriku untuk tempat-tempat yang mencurigakan. Aku terus membujuknya, namun dia tidak mau dan terus pergi. Mendengar hal itu, orang yang sakit tadi langsung menjatuhkan diri dan kembali sakit dengan kondisi yang lebih parah lagi dari sebelumnya, tanda-tanda kematian sudah tampak di wajahnya, saat itu dia mengatakan dalam untaian syair :

يا سلمى يا راحة العليل ويا شفا المذنف النحيل
Wahai salma, wahai penenang hati yang sakit. Wahai obat bagi tubuh yang kurus.
Keridhaanmu lebih diharapkan oleh hatiku, katimbang rahmat Allah yang maha pencipta dan maha mulia.

Maka abdul Haq asy- asyibly berkata kepadanya : “wahai fulan, takutlah engkau kepada Allah !!” dia menjawab : semuanya sudah terjadi. akhirnya aku meninggalkannya. Dan tidak sempat aku melewati pintu rumahnya, hingga aku medengar nyaring suara kematiannya. Kita berlindung kepada Allah dari su’ul khatimah.

Ibnul Qoyyim AlJauziyah : Laa taqrobuzzina

Bila anda perhatikan kondisi kebanyakan orang saat sakaratul maut menjemput, anda akan melihat bahwa mereka terhalangi untuk mendapatkan husnul khatimah, sebagai hukuman akibat perbuatan perbuatan jelek mereka.
Al-hafizh Abu Muhammad Abdul Haq bin Abdurrahman Asy-syibli berkata ( ): “ketahuilah bahwa su’ul khatimah itu ( semoga Allah menjauhkan kita darinya ) mempunyai beberapa penyebab. Ada jalan-jalan dan pintu-pintu yang menghantarkan kepadanya. Penyebab, pintu dan jalan yang paling besar adalah larut dalam urusan keduniaan, tidak perhatian dalam urusan akhirat dan berani maksiat kepada Allah. Bisa saja ada seseorang yang sudah terbiasa melakukan kesalahan atau maksiat tertentu, sehingga menguasai hatinya, akalnya tertawan oleh kebiasaan tersebut, pelita hatinya padam dan terbentuklah hijab yang menutupinya. Akibatnya, teguran tidak lagi akan berguna, nasihat tidak lagi akan bermanfaat dan bisa saja kematian datang menjemput saat dia dalam keadaan demikian. Lalu datanglah panggilan kebaikan dari subuah tempat yang jauh, namun dia tidak dapat memahami maksudnya. Dia tidak tahu apa yang diinginkan oleh panggilan itu, sekalipun orang yang meneriakkan panggilan itu terus mengulangi dan mengulanginya lagi”.

Diriwayatkan, bahwa ada seorang dari anak buah An Nashir ( salah seorang pemimpin di masa Mamlukiyyah) yang sedang didatangi oleh sakaratul maut, kemudian anaknya berkata : “ ucapkanlah, laa Ilahaa Illallah !” orang itu berucap : “An Nashir adalah tuanku.” Diulangilah permintaan itu kepadanya, namun jawaban orang itu tetap sama. Tiba-tiba orang itu tidak sadarkan diri dan setelah dia siuman dia berucap lagi : “ An Nashir adalah tuanku”. Begitulah terus menerus setiap kali dikatakan kepadanya ucapan : “ laa Ilaaha Illallah” dia malah berucap : “ An Nashir adalah tuanku”. Kemudian ia berkata kepada anaknya : “ Hai fulan, sesungguhnya An Nashir itu dapat mengenalmu hanya dengan pedang dan keberanianmu membunuh ( berperang )”. Kemudian dia meninggal dunia.

Abdul Haq berkata : “ pernah dikatakan juga kepada orang lain ( yang saya mengenalnya ) ucapkanlah : laa Ilaaha Illallah dia malah berucap : “ tolong rumah yang di sana itu diperbaiki, dan kebun yang di sana itu dikerjakan…”
Abdul Haq juga berkata : “di antara riwayat dari Abu thahir As Silafiy yang mana dia telah mengizinkan aku untuk meriwayatkannya, yaitu subuah kisah dimana ada seorang pria yang sedang sakaratul maut, kemudian dikatakan kepadanya : ucapkanlan ‘laa Ilaaha Illallah’ namun dia malah mengatakan kata-kata dengan bahasa Persia yang artinya ‘ sepuluh dengan sebelas( maksudnya, boleh berutang sepuluh tapi bayarnya sebelas, pent)
Dan pernah dikatakan pula pada orang lain : ucapkanlah laa Ilaaha Illallah dia malah mengatakan “ mana jalan ke pemandian manjab? ( nama pemandian ).”
Kata Abdul Haq : jawaban yang diucapkannya itu ada ceritanya. Suatu ketika ada seorang pria yang sedang berdiri di depan rumahnya. Rumah tersebut pintunya menyerupai pintu sebuah tempat pemandian, tiba-tiba di situ lewat wanita cantik dan bertanya, ‘mana jalan ke pemandian manjab ? dia menjawab (sambil menunjuk ke pintu rumahnya) , ini dia pemandian manjab itu! Maka, wanita itu pun masuk ke dalam rumahnya sampai kebelakang. Setelah dia sadar terjebak di rumah sang pria dan tahu bahwa dia sedang ditipu, dia pura-pura menampakkan rasa gembira dan suka cintanya karena pertemuannya dengan pria itu. Kemudian wanita itu berkata, ‘ sebaiknya (sebelum kita berkumpul ) engkau harus mempersiapkan untuk kita apa-apa yang dapat membuat keindahan kehidupan kita sekaligus menyenangkan hati kita’. Dengan segera pria itu menjawab,’ sekarang juga aku akan membawakan untukmu semua apa yang kami inginkan dan kamu senangi’. Lalu dia pergi ke luar dan meninggalkan si wanita dalam rumah, namun tidak menguncinya. Kemudia ia mengambil apa yang dia bisa bawa lalu kembali ke rumahnya. Tapi sayang si wanita itu telah keluar dan pergi. Sedikitpun wanita itu tidak mengambil apa- apa dari rumahnya. Pria itu akhirnya mabuk kepayang dan selalu ingat pada wanita itu tadi. Dia berjalan di lorong-lorong dan gang-gang sambil mengatakan :

يا رب قائلة يوما وقد تعبت كيف الطريق إلى حمام منجاب ؟

Wahai Tuhan mana wanita yang mengatakan suatu hari dalam kondisi capek: mana jalan kepemandian munjab?

Suatu saat , waktu dia mengucapkan bait syair tadi, ada seorang wanita berkomentar dari jendela pintu rumahnya :

هلا جعلت سريعا إذ ظفرت بها حرزا على الدار أو قفلا على الباب

Mengapa di saat sudah mendapatkannya tidak dengan segera engkau menutup rumah itu atau mengunci pintunya ?

Mendengar itu ia tambah mabuk kepayang. Begitulah terus kondisinya sehingga bait syair itu menjadi kata-kata terakhirnya saat meninggal dunia.”

Suatu malam, sufyan Ats- tsauri menangis sampai pagi. Di pagi itu ada yang bertanya kepadanya: “ adakah semua yang kau lakukan ini karena takut akan dosa ?” lalu sufyan mengambil segenggam tanah seraya berkata : “ dosa itu lebih ringan dari batu ini, aku menangis karena takut akan su’ul khatimah.”
Sungguh, ini adalah pemahaman yang baik, bila seseorang itu khawatir akan dosa-dosanya akan mebuatnya terhina di kala meninggal dunia nanti, sehingga dia terhalang untuk memperoleh husnul khatimah.
Al Imam Ahmad pernah menyebutkan bahwa Abu Darda’ di saat sakaratul maut datang, dia pingsan tak sadarkan diri, kemudian dia siuman dan membaca :

ونقلب أفئدتهم وأبصارهم كما لم يؤمنوا به أول مرة ونذرهم في طغيانهم يعمهون

“ Dan (begitulah ) kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya pada permulaannya, dan kami biarkanmereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat” (QS. Al An’am : 110)

Dan oleh karena itu, para ulama salaf khawatir kalau dosa-dosa itu dapat menghalangi mereka untuk memperoleh husnul khatimah.

Abdul Haq juga berkata : “ ketahuilah bahwa su’ul khatimah itu ( semoga kita dilindungi oleh Allah darinya ) tidak akan terjadi pada orang yang dasarnya sudah rusak atau senantiasa melakukan dosa besar dan mengerjakan kemaksiatan. Barang kali itu menjadi kebiasaannya, sehingga kematian datang menjemputnya sebelum sempat bertaubat, akhirnya dia meninggal sebelum memperbaiki dirinya, urat nadinya dicabut sebelum dia kembali kepada Allah, sehinga saat itu setan berhasil merenggut dan menyambarnya disaat yang genting tersebut. Na’udzu billah!”

Diriwayatkan bahwa di mesir dulu ada seseorang yang selalu pergi ke masjid untuk adzan dan melakukan shalat. Wajahnya berwibawa dan penuh cahaya ibadah. Suatu hari dia naik ke menara seperti biasanya untuk adzan, di bawah menara itu ada rumah seorang nashrani, dia melongok ke dalam rumah tersebut, dan melihat anak perempuan pemilik rumah itu, akhirnya ia tergoda dengannya, lalu dia tinggalkan adzan saat itu, dan turun untuk menemuinya, dan masuk ke dalam rumahnya. Anak perempuan itu bertanya : “ ada apa, apa yang kamu inginkan ?” Dia menjawab : Aku menginginkan kamu. Dia bertanya lagi : “mengapa demikian ?” dia menjawab : “ sungguh engkau telah menawan jiwaku dan menguasai seluruh relung hatiku.” Perempuan itu berkata : “ Aku tidak akan pernah memenuhi keinginanmu selamanya.” Pria tadi menjawab : “ aku akan mengawinimu lebih dahulu.” Perempuan itu berkata : “engkau seorang muslim, aku nashrani, ayahku tidak akan mengawinkan aku denganmu.” Lelaki itu berkata: “ aku akan masuk agama Nashrani!” Maka wanita itu berkata : “ jika kamu lakukan itu, maka aku mau!” akhirnya lelaki itu resmi masuk Nashrani agar dapat kawin dengannya. Diapun tinggal bersama mereka. Dan pada hari itu, dia naik loteng yang ada di rumah tersebut, kemudian jatuh dan langsung mati.
Kasihan, dia tidak berhasil mendapatkan perempuan tersebut dan dia kehilangan agamanya.

Diriwayatkan pula, ada seorang laki-laki yang senang kepada seseorang. Kesenangan dan kecintaannya sangat kuat, sehingga mampu menguasai hatinya. Bahkan, dia sampai jatuh sakit dan harus tidur istirahat karenanya. Sementara orang yang dicintai itu tidak mau menemuinya. Dia benar-benar tidak suka dan menjauh darinya. Sementara itu orang-orang berusaha mempertemukan keduanya, sehingga ia berjanji untuk menemuinya. Orang-orang datang membawa kabar tersebut, diapun gembira dan sangat bersuka cita. Kesempitan di dadanya terasa hilang. Jadilah ia menunggu waktu yang ditentukan untuknya. Di saat itu, tiba-tiba datang orang yang akan mempertemukan keduanya, lalu menyampaikan : “dia sudah berangkat bersamaku sampai di tengah perjalanan, namun dia kembali lagi. Aku terus mendorong dan merayunya, tapi dia berkata : “ orang itu ingat dan menyebut-nyebut aku dan dia pun bergembira dengan kedatanganku. Namun aku tidak akan masuk ke tempat yang meragukan. Aku tidak akan mempersembahkan diriku untuk tempat-tempat yang mencurigakan. Aku terus membujuknya, namun dia tidak mau dan terus pergi. Mendengar hal itu, orang yang sakit tadi langsung menjatuhkan diri dan kembali sakit dengan kondisi yang lebih parah lagi dari sebelumnya, tanda-tanda kematian sudah tampak di wajahnya, saat itu dia mengatakan dalam untaian syair :

يا سلمى يا راحة العليل ويا شفا المذنف النحيل
Wahai salma, wahai penenang hati yang sakit. Wahai obat bagi tubuh yang kurus.
Keridhaanmu lebih diharapkan oleh hatiku, katimbang rahmat Allah yang maha pencipta dan maha mulia.

Maka abdul Haq asy- asyibly berkata kepadanya : “wahai fulan, takutlah engkau kepada Allah !!” dia menjawab : semuanya sudah terjadi. akhirnya aku meninggalkannya. Dan tidak sempat aku melewati pintu rumahnya, hingga aku medengar nyaring suara kematiannya. Kita berlindung kepada Allah dari su’ul khatimah.

Ibnul Qoyyim AlJauziyah : Laa taqrobuzzina


One thought on “Duhai Diri Apa yang Kan Kau Ucapkan Nanti?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s