Rabb, Aku Ingin Kembali

Waktu
Berjalan begitu cepatnya
Laksana kereta yang meluncur tanpa kendali
Terus berjalan tanpa penghalang menghadang

Waktu
Detak detik jam terus memburu
Berlari meninggalkan diri ini
Yang sendiri
Menatap langit malam ini
Merenungi episode perjalanan hidup yang mengalir bak air sungai
Yang kan bermuara di suatu dermaga
Yang kuharap surga terindahlah tempatnya

Robbi
Hari-hariku hilang
Entah kemana mereka pergi
Bahkan aku tak sadar
Karena hari ini, detik ini aku sampai di sini
Di sebuah perjalanan menuju tempat berteduh yang hakiki

Duhai,
Betapa malangnya aku
Jika suatu saat nanti tak berjumpa dengan Tuhanku
Sementara aku begitu menginginkan perjumpaan dengan-Nya
Merindukan memandang wajah-Nya
Bersama hamba-hamba yang dicintai-Nya
Pantaskah kelak ku dapatkan itu semua?
Sementara dosa selalu kurajut dalam kehidupan semu yang mengundang nestapa…

Wahai diri…
Bangunlah
Berkacalah
Bukankah kini tampak di hadapanmu
Sesosok wajah yang begitu kau kenal?
Wajah siapa gerangan yang kini tengah kau saksikan?

Sekarang
Kembalilah
Berkacalah lagi
Amatilah dengan seksama
Bukan untuk mematut diri
Bukan untuk bersolek
Bukan pula untuk berbangga diri

Lihatlah
Wajah itu
Wajah yang selama ini kau rawat
Wajah yang selama ini kau beri perhatian lebih
Wajah tempat berbagai kenikmatan yang telah Alloh anugerahkan

Pernahkah kau berpikir
Untuk selalu menyebut Asma Robb-Mu kala melihatnya di depan cermin?
Pernahkah kau ucapkan
“Allohumma kamaa hassanta kholqii fahassin khuluqii”
Ya Alloh.. baguskanlah akhlaqku sebagaimana Engkau baguskan wajahku.

Atau justru kau berbangga dengannya
Merasa lebih tampan
Merasa lebih rupawan
Merasa lebih menawan
Dan kau pun mulai membandingkan
Dengan wajah orang yang lainnya
Hingga kau hanya mengucapkan
“Wah, betapa cantiknya aku, betapa tampannya aku. Tak heran jika banyak orang yang mengagumiku selama ini…”
Atau dengannya kau justru punya niatan untuk menggaet lawan jenismu
Membuat orang terpesona padamu…

Wahai diri, sadarlah…
kalau hanya itu yang kau inginkan…
Maka kau tak lebih hebat dari mereka yang punya wajah pas-pasan
Tapi mereka bersyukur pada Alloh
Selalu menundukkan pandangan
Tunduk tawadhu’ menikmati karunia wajah yang Alloh berikan..
Bahkan mungkin mereka akan lebih terjaga dengannya…

Sekarang amatilah dirimu lagi
Lihatlah
Mata yang berbinar itu
Mata yang dengannya engkau bisa melihat
Mata yang dengannya engkau bisa memandang
Lihatlah, engkau memilikinya di saat ada hamba Alloh yang lain yang diambil kenikmatannya…
Pernahkah kau merenung
Untuk apakah Alloh menganugerahkan mata seindah ini untukku?
Sungguh mata itu telah menjadi pengendali
Karena mata engkau bisa membaca
Karena mata engkau bisa berjalan
Karena mata engkau menyentuh apa yang engkau lihat dengannya
Sungguh bagaimana mungkin engkau masih mengeluh dengan kenikmatan itu
Merasa tak cantik dan tak tampan, karena bola mata hitam
Bertanya-tanya kenapa aku tak dilahirkan dengan bola mata biru, coklat dan warna-warna lainnya???
Duhai…
Bagaimana mungkin itu terjadi???
Bukankah banyak orang buta yang ingin melihat?
kalau kau tak mau bersyukur juga,
Sudikah engkau memberikan bola mata itu untuk si Buta?
Tentu kau takkan mau melakukannya…
bahkan dengan kedua bola mata itu seringkali kau tak bersyukur
Kau gunakan untuk melihat apa yang bukan haknya
Mengumbarnya yang sesungguhnya akan mendatangkan bahaya berkepanjangan
Duhai,,,
Tidakkah kau sadar,
Betapa banyak fitnah hati yang terjadi hanya karena pandangan mata
Sungguh beruntung si buta yang tak terpukau oleh silaunya dunia
Namun betapa hinanya kita
Jika dengan nikmat pandangan kita tiada mampu menjaga dan mengarahkannya…

Lihatlah kembali saudaraku…
Lihatlah bibir itu
Yang dengannya engkau bisa bicara
Dengannya engkau bisa makan…
Sudikah kau sunggingkan senyum sebagai wujud syukurmu pada-Nya?
Menggunakannya untuk berdzikir menyebut asma-Nya?
Memperbanyak membaca Alqur’an dan memanjatkan do’a pada-Nya?
Sungguh kelak bibir itulah yang menjadi saksi atas segala yang kau ucapkan
Maka
Janganlah kau biarkan ia berkata sia-sia
Menjauhkannya dari banyak tertawa
Menjauhkannya dari banyak bercanda
Fal yaqul khoiron au liyasmut
Maka berkatalah yang baik atau diam
Berapa banyak hati yang tersakiti karena tajamnya bibir yang kau miliki????
Berapa banyak bangkai saudaramu yang kau makan tanpa kau sadari????
Dan berapa banyak ucapan kesyirikan yang tercetus tanpa kau sadari????
Wahai….
Di mana tempatmu saat ini yaa nafsi????
Janganlah engkau berkumpul di majelis pergunjingan dan penuh kesia-siaan
Karena kelak kau akan dimintai pertanggungjawaban

Sekarang angkatlah kedua tangan yang tercipta sempurna di tubuhmu
Lihatlah,
Bukankah kau memilikinya di saat sebagian saudaramu tak punya?
tangan yang tercipta sempurna
Dengan lima jari utuh yang ada di setiap tangan
Untuk apakah kedua tangan ini engkau gunakan selama ini?
Sudahkan kau jauhkan ia dari hal yang diharamkan?
Mengambil yang bukan hakmu, menyentuh yang bukan mahrammu, menyakiti, mendzalimi…

Wahai diri…
Ketika engkau berdiri di depan cermin,
Ketika tampak sesosok tubuh di hadapanmu,
Ketika itu, apa yang engkau pikirkan wahai diri???

Tak cukupkah waktu bagimu untuk merenung?
Bermuhasabah diri,
Sejauh mana selama ini kau mensyukuri karunia-Nya?
Sejauh mana selama ini kau berusaha menjalankan ketaatan kepada-Nya?
Sejauh mana selama ini kau menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya?

Maka katakanlah:
“Rabb..
Sesungguhnya aku dzalim kepada diriku sendiri…
Saat aku melihat nikmat dengan kedua mataku, tanpa terasa aku mendzaliminya meski hati ini merasa senang dengan kedzaliman itu
Saat aku menggunakan kedua lisanku, tanpa terasa aku juga telah mendzaliminya meski terasa nikmat aku menggunakannya
Saat aku menggunakan kedua tanganku, tanpa terasa aku telah mendzaliminya meski terasa bahagia aku karenanya
Saat aku melangkah dengan kedua kakiku, tanpa terasa aku pun mendzaliminya meski aku tidak menyadarinya
Aku mendzalimi mereka semua dengan kubangan maksiat yang kulakukan…
Aku mendzalimi mereka dengan melanggar yang Kau larang…
Aku mendzalimi mereka dengan meninggalkan ketaatan kepada-Mu..

Rabb,
Bagaimana nasibku nanti seandainya aku harus menghadap-Mu
Ketika mulut ini terkunci
Dan mereka semua berbicara…
Aku telah digunakan untuk begini dan begitu…

Rabb, masih adakah ampun bagiku saat itu???
Tidak! sungguh tidak ada!
karena taubat sesungguhnya hanya Engkau terima ketika nyawa masih dikandung badan
Ketika masih di dunia…

Duhai diri yang hina…
Kau kemanakan dirimu selama ini???

Astaghfirullah… Wa atuubu ilaih….

Hamba yang fakir di hadapan Rabb-Nya…
Aufanuri Ihrishii


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s