Kesalahan Seputar Puasa


1. Melafadzkan Niat Puasa
Melafadzkan niat merupakan perbuatan yang tidak dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak pula dicontohkan oleh para sahabat, para tabi’in, tidak pula oleh Imam yang empat, serta para salaf, sehingga perbuatan melafadzkan niat merupakan perkara baru dan diada-adakan dalam agama. Niat itu letaknya di dalam hati, dan niat merupakan maksud ibadah.
Mengenai niat puasa ini, terdapat hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mempersyaratkan untuk berniat puasa di malam hari sebelum fajar untuk puasa wajib. Maksudnya yaitu berniat puasa di dalam hati bahwasannya kita hendak berpuasa besok pagi. Sebagaimana hadits shahih yang disampaikan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.”’ (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan).
Dalam hadits tersebut, maksudnya yaitu dengan berniat di dalam hati, sebagaimana makna dhahirnya  ( تبييت ). Wallahu a’lam.
2. Bermudah-mudah dengan Waktu Imsak
Sebagian orang masih makan dan minum hingga mu’adzin selesai mengumandangkan adzan, boleh jadi karena meremehkan, sehingga dia masih makan dan minum hingga mu’adzin selesai adzan di masjid yang didengarnya. Ini adalah kesalahan yang nyata, bahkan bisa jadi akan membatalkan puasa. Allah Ta’ala berfirman:
“Makanlah dan minumlah sampai jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam di waktu fajar.” Jelasnya waktu fajar yang disebutkan itu adalah awal waktu fajar, yaitu waktu adzan fajar. Kata “hattaa” menunjukkan tujuan, sehingga ketika muadzin mulai adzan kedua yang dikumandangkan saat terbit fajar, maka kita wajib menahan diri dari makan dan minum untuk berpuasa. Inilah yang dimaksudkan dalam hadits ‘Aisyah binti Umar radhiyallahu ‘anhum, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di waktu malam , maka tetaplah kalian makan dan minum sampai terdengar adzan dari Ibnu Umi Maktum.” (Muttafaqun ‘alaih). Dan dalam hadits riwayat Bukhari, “Sesungguhnya dia (Ibnu Umi Maktum) tidaklah mengumandangkan adzan sampai terbit fajar”. Perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “Makanlah dan minumlah sampai dikumandangkan adzan…” merupakan dalil atas wajibnya menahan diri dan memulai puasa bersamaan dengan terdengarnya adzan kedua yang dikumandangkan setelah terbit fajar.
Akan tetapi terdapat sunnah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang merupakan sebuah kelonggaran bagi siapa saja yang mendengar adzan, sedangkan di tangannya masih terdapat suapan makanan yang terakhir atau minuman yang belum selesai dimakan atau diminum untuk mereka menyelesaikannya terlebih dahulu. Wallahul Muwaffiq.
3. Meremehkan Sholat Jama’ah Karena Tidur dan Menjama’ Sholatnya.
Ini adalah bentuk kemungkaran yang besar pada bulan puasa. Padahal sholat merupakan rukun agama yang paling besar setelah syahadat, oleh karena itu perbuatan meremehkannya adalah larangan yang tidak pernah boleh dilakukan. Karena terdapat hadits tentang kewajiban sholat berjama’ah di masjid (bagi laki-laki), dan larangan meninggalkan sholat secara berjama’ah karena lebih mengutamakan tidur, atau yang lainnya. Adapun menjamak sholat tanpa adanya alasan syar’i, ini meruapakan kemunkaran yang juga tidak diperbolehkan.
Seorang muslim diperintahkan untuk mengatur waktunya dengan dasar lebih mendahulukan sholat di samping urusan-urusan yang lain. Dan wajib bagi kaum muslimin untuk saling tolong-menolong dan saling menasehati mengenai hal ini yang nampak jelas di bulan puasa, karena Allah Ta’ala berfirman,”saling tolong menolonglah di atas kebaikan dan ketakwaan dan janganlah kalian saling menolong dalam perbuatan dosa dan kedholiman.”
4. Berbohong dan melakukan perbuatan haram serta bertindak usil yang hanya dilakukan oleh orang bodoh di bulan puasa dan selainnya.
Berbohong dan melakukan perbuatan haram merupakan perbuatan buruk yang terlarang. Dalam shahih Bukhari terdapat hadits yang berasal dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,’Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak butuh perbuatannya dalam meninggalkan makan dan minum.”
Perbuatan usil di antaranya adalah berkata kotor, mencaci maki, dan berbagai akhlak buruk lainnya. Hal ini merupakan perbuatan yang munkar, terkhusus lagi di bulan puasa. Dalam Kitab Shahihain terdapat hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,’Allah Ta’ala berfirman, “Setiap amal yang dilakukan anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untukKu dan Akulah yang akan memberikan pahalanya. Puasa itu adalah perisai, maka setiap hari puasa kalian janganlah berkata jorok, berteriak-teriak yang tak ada gunanya, oleh karena itu jika ada seseorang yang mencaci atau mengajaknya berkelahi, hendaknya dia katakan, Aku berpuasa, aku berpuasa.”’
Hadits dari Abu Hurairah yang telah lalu yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam pembahasan tentang Adab dalam Kitab Shahihnya, dengan lafadz, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan melakukan perbuatan haram dan perbuatan usil yang dilakukan orang yang bodoh …”, termasuk perbuatan usil adalah berkata kotor, mencaci maki, ghibah, namimah, maupun perkataan dusta dan lain sebagainya yang berupa penyakit-penyakit lisan dan anggota badan. Maka seorang yang berpuasa wajiblah menjauhkan dirinya dari kedusataan, ghibah, perbuatan usil dan caci maki. Demikian pula bagi orang yang tidak berpuasa, akan tetapi lebih wajib lagi bagi orang yang berpuasa pada bulan ramadhan. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk menjauhinya.
5. Melepas pandangan dan pendengaran kepada sesuai yang haram.
Allah Ta’ala berfirman,”Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawaban,”. Anggota badan yang seorang hamad diamanahi dengannya, dia akan ditanya untuk apakah anggota badan tersebut digunakan. Dan sungguh seorang hamba yang terbiasa melihat dan mendengarkan kemunkaran, seperti melihat wanita-wanita yang bertabarruj yang mempropagandakan fitnah, mendengarkan musik dengan berbagai macam jenisnya, semua itu wajib dihindari di bulan ramadhan dan selainnya. Terlebih lagi di bulan suci ramadhan, maka hal tersebut lebih nyata untuk dihindari karena bulan itu merupakan bulan yang penuh kemuliaan dan ampunan. Sungguh indah jika seorang muslim menjadikan bulan tersebut sebagai sarana untuk memutus hubungan dengan sesuatu yang haram dilihat dan didengarkan serta dari segala sesuatu yang membangkitkan syahwat, sebagaimana dalam hadits Qudsi:
“Tinggalkan makananmu, minumanmu, dan syahwatmu karena Aku.”
6. Mendengarkan alat musik di bulan puasa dan selainnya.
Memgenai alat musik ini, terdapat hadits tentang larangan untuk mendengar suara musik dan nyanyian yang diiringinya. Allah Ta’ala berfirman,”Di antara manusia ada yang membeli perkataan yang melalaikan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.”. Ibnu Mas’ud dan selainnya berpendapat, ”yang dimaksud adalah nyanyian.” Sehingga tidaklah diragukan lagi bahwa alat musik dan nyanyian adalah termasuk perkataan yang melalaikan yang akan menyesatkan manusia dari jalan Allah.
Dalam Shahih Bukhari, dijelaskan tentang bentuk penetapan, bahwa sebagian ulama’ menuturkan bahwa riwayat hadits tersebut bersambung,
“Sungguh akan ada di antara umatku yang menghalalkan zina, sutera untuk laki-laki, khamr, dan alat musik…”
Ini adalah bentuk pengharaman yang nyata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan bahwa akan ada umatnya yang menghalalkan, berarti menujukkan bahwa hal tersebut pada asalnya adalah haram. Sungguh benar apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Begitu banyak umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang menggunakan alat musik dan nyanyian dengan menganggap remeh dan tidak peduli akan larangan yang ada dalam hadits di atas.
Sepatutnya seorang muslim itu mengikuti ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan pada bulan ramadhan – dimana hal ini lebih ditekankan lagi larangannya- dan di bulan selainnya.
7. Meremehkan untuk mempelajari hukum-hukum yang terkait dengan bulan Ramadhan.
Merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk mempelajari hukum-hukum puasa, seperti waktu berbuka dan imsak, pembatal-pembatal puasa, berbagai hal yang terlarang untuk dikerjakan, syarat-syarat puasa, dan lain sebagainya. Sehingga dia mampu menempatkan ibadah sesuai dengan tempatnya, dan ibadah tersebut membuahkan pahala baginya karena di atas ilmu.

Diterjemahkan dari Kitab Al-Mindhor
Yang dibahas dalam Kajian Rutin bersama Ustadz Aris Munandar setiap Sabtu di Masjid Pogung Raya dan Ahad di Masjid Al-‘Ashri Pogung Rejo.


One thought on “Kesalahan Seputar Puasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s