Inilah Anugerah Terindah..

Tangisnya semakin meledak seiring berakhirnya pembicaraan di telpon itu. Antara rasa sedih dan gembira yang tiada terkira. Biarlah satu keinginan terpendamnya belum terkabulkan, karena satu keinginannya kini telah terwujudkan. Karena inilah anugerah terindah yang kini dia rasakan…

Kisah ini berawal dari perjalanan seorang akhwat yang rindu akan lambaian kebenaran. Empat tahun lalu, kebenaran yang dirindu datang menyapa. Menyentuh rongga hati yang pada awalnya masih dipenuhi karat-karat syubhat yang mebutakannya. Kesibukan terjun di dunia aktifis telah membuatnya lupa akan hakikat utama para Rasul diutus oleh Allah Ta’ala kepada umatnya. Namun, karena Allah kemudian orang-orang yang telah menunjukkan jalan kepada-Nya –semoga Allah menjaga mereka-, kini akhwat tersebut mulai menemukan seberkas cahaya jalan pulang kepada-Nya. Semoga Allah mengaruniakan kiestiqomahan hingga akhir hayatnya. Aamiin..

Saat di Bangku SMA

Di sebuah mushola yang mungil, sayup terdengar ayat-ayat Allah dibaca dan dikaji dengan seksama. Decak kagum pun menggema di dada, belum pernah dia sebelumnya mendapati ilmu yang dijelaskan dengan rinci dan seilmiah ini. Kebodohannya membuat dia ingin bertanya kepada sang ustadz perihal apa-apa yang tidak diketahuinya. Diapun tersadar, betapa kecil dan kerdilnya diri dibanding mereka yang begitu teguh dan istiqomah menuntut ilmi di jalan itu, yang telah mendahului dirinya. Sedikit demi sedikit, diapun mengerti akan hakikat tauhid, syirik, bid’ah dan berbagai ilmu lain yang disampaikan ustadz. Meski diakui, banyak hal yang terlupa maupun terlewat dan banyak hal yang harus dia benahi.

Tiba saatnya, saat-saat ia mulai mengetahui syariat hijab bagi wanita. Mengenai jilbab labuh, dia sedikit demi sedikit mulai mebiasakan. Namun kini lebih dari itu, dia akan belajar tentang hukum memakai cadar. Kala itu, bersama muslimah yang lainnya di sebuah masjid SMA yang ada di kota dia tinggal, seorang ustadzah berwajah teduh menjelaskan secara rinci hakikat cadar bagi seorang wanita muslimah. Tahulah dia bahwa sebagian ulama menyatakan wajib dan sebagian lagi sunnah muakkadah. Namun yang jelas, mengenakan cadar adalah lebih utama dan lebih menjaga wanita dari berbagai fitnah di sekitarnya.

Keinginan hati pun mulai membumbung tinggi, diapun mulai memberanikan diri berpakaian serba gelap, meski belum lengkap dengan cadar yang tersemat di wajahnya. Hanya secarik slayer yang selalu menemani kala dia pergi dengan sepeda motornya.

Perubahan dirinya tak serta merta membuat orangtuanya terdiam. Sang ibupun sempat menegur, “Mbok biasa saja to Nduk, kaya teman-teman yang lain.” Begitu pula dengan sang ayah. Sempat terselip rasa sedih, mau berdalil pun ia tak cukup berani. Namun, malam itu, dia beranikan diri untuk mengatakan pada sang ayah tercinta, “Ayah, kalau aku memakai cadar bagaimana?”. Nada bicaranya seperti orang meminta pendapat, namun karena sang ayah belum mengatahui ilmunya diapun serta-merta mengatakan,”Jangan ikut-ikut teroris.” Nada bicara sinis bercampur sedikit marah. Namun semoga Allah mengampuninya yang mana pada saat itu sang ayah belum benar-benar mengatahui hukum cadar. Mungkin sang akhwat terlalu tergesa-gesa, sehingga semangatnya tak diimbangi dengan hikmah dalam mendakwahkan ilmu yang dia dapatkan.

Untuk sementara waktu, diapun diam. Dia berusaha menurut apa kata sang ayah, dan berjalan pelan sembari berdoa semoga Allah memberikan hidayah kepada beliau. Meski seringkali ada hal-hal yang saling bertentangan di antara mereka. Sang ayah yang begitu suka dengan acara pengajian di televisi, sedangkan dia sendiri tak begitu suka karena dalam anggapannya pengajian2 tsb tak jauh dari bid’ah dan beberapa kesalahan yang meskipun tidak bisa dikatakan semuanya. Waktu terus berjalan dengan berbagai hiruk pikuk di antara si akhwat dengan keluarganya.

Saat Harus Kuliah

Kini ia sedang duduk di kelas 3. Sebentar lagi ia akan lulus dan menghampiri cita-citanya. Dulu seringkali terbersit dalam hatinya ingin kuliah di kota yang jauh sehingga dia bisa nge-kost. Namun itu dulu, ketika masih SMP, ketika jalan hidayah belum sampai kepadanya. Namun, ketika dia mulai sedikit tahu tentang hakikat dan keutamaan ilmu agama, hinggaplah dalam pikirannya untuk tidak meneruskan kuliah di PT dan masuk sebuah pondok salafy ketika sudah lulus nanti.

Namun, saat ia mulai mengajak ayahnya berdiskusi, apa daya ternyata sang Ayah bersikeras agar dia mau kuliah. Ayahnya mengatakan bahwa beliau telah menyiapkan biaya kuliah untuknya. Mau kuliah di manapun, asal tidak jauh dari rumah. Paling mentok di kota Jogja, tak boleh lebih dari itu. Mulailah ia menyusun rencana, bagaimanapun ketika sudah kuliah, ia harus tetap ngaji. Sebisa mungkin lebih intensif daripada ketika ia ngaji di SMA. Ia ingin belajar Bahasa Arab, Ia ingin belajar dengan kitab asli sebagaimana yang ia pegang ketika kajian di sebuah masjid di kotanya. Meski saat itu ia tak tahu apa-apa, karena kitab yang dia pegang tertulis dalam huruf Arab gundul. Ada dua kota yang ingin dia tuju. Kota tempat dia tinggal, atau kota Pelajar. Akhirnya, pengumuman SNMPTN diberitakan. Kota Pelajar. Itulah kota yang akan ia tuju. Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah ia pun belajar ilmu dunia dan agama di kota itu.

Aku Bukan Teroris

Inilah hari pertama keberangkatannya ke kota pelajar. Dengan ditemani kakak laki-laki dan ibunya, ia pun berangkat dengan membawa barang-barang perlengkapan untuk nge-kost. Perpisahan, tentu hal yang membuat hatinya merasa sedih. Namun, bukan hanya itu. Yang lebih membuat hatinya merasa sedih adalah ketika ia mengingat pesan kakak dan ibunya ketika hendak beranjak pergi meninggalkannya.

“Jangan ikut-ikut golongan macam-macam ya.” Itu pesan ibunya sembari mencium pipinya.

“Jangan ikut-ikut golongan teroris!”. Itu pesan kakaknya.

Ia pun hanya bisa menjawab dengan nafas sesak,”Nggak, Bu..”

Sesaat setelah mereka pergi, ia pun tak kuasa menahan air mata. Kata-kata itu begitu menyakitkan baginya. Memang saat itu sedang santer-santernya berita tentang gembong teroris yang melakukan pengeboman. Dan di televisi pun mulai banyak ditampakkan istri-istri ‘teroris’ yang memakai cadar. Meski ia sendiri belum memakai cadar, namun mungkin orangtuanya mulai curiga karena tahu ia sering kajian di tempat orang-orang yang memakai cadar serta ikut dauroh di pondok yang akhwatnya pun bercadar. Ingin rasanya dia katakan, bahwa ia bukanlah pengikut teroris, namun air mata membungkam mulutnya untuk berbicara. Biarlah semua berjalan, Insyaa Allah akan ada waktunya.

Saat Kajian Haji

Pagi itu, ada acara kajian rutin haji yang diadakan sebulan sekali. Acara kajian diadakan secara bergiliran di rumah masing-masing anggota mantan jama’ah haji. Tibalah acara kajian diadakan di runmah orangtua si akhwat. Beberapa orang nampak sibuk dengan aktivitas menyiapkan hidangan untuk para tamu. Termasuk si akhwat. Hingga acara kajian dimulaipun, ia tak begitu memperhatikan karena sibuk dengan urusan menyiapkan makanan. Detik demi detik berlalu, dan selesai sudah kajian. Hingga selang beberapa hari dia pun tak tahu siapa yang mengisi kajian di rumah orangtuanya.

Malam sepulang dari masjid, ia mulai bercerita kepada ibunya bahwa dulu ketika SMA ada kajian yang ngisi Ustadz dari sebuah pondok salafy. Ia mulai mengadakan pendekatan pada ibunya tentang kajiannya selama ini. Akhirnya ibu angkat bicara, dan mengatakan bahwa pas kajian haji kemarin yang ngisi juga Ustadz dari Pondok yang disebutkan si akhwat. Betapa terkejutnya si akhwat, dan menanyakan siapa nama ustadz tersebut. Ternyata ustadz yang ngisi kajia di SMA-nya dan yang ngisi di rumah orangtuanya adalah ustadz yang sama. Kajian di rumah saat itu membahas tentang Sifat Sholat Nabi.

Sang akhwat pun penasaran, bagaimana alur ceritanya kok bisa Ustadz itu mengisi kajian mantan jama’ah haji yang berada di bawah organisasi Muhammadiyah. Maka sang ibupun mengatakan bahwa ada salah satu temannya yang menyekolahkan anaknya di pondok tersebut, akhirnya temannya tersebut mengundang Ustadz di pondok anaknya untuk mengisi kajian para haji. Betapa bersyukurnya sang akhwat ketika tahu bahwa orangtuanya ngaji dengan Ustadz yang mengikuti manhaj salaf. Semoga Allah membalas kebaikan teman orangtuanya juga sang Ustadz yang mengisi kajian tersebut.

Qodarullah, Musibah Menimpa

Liburan semester genap tiba. Sudah menjadi hal yang biasa, jika liburan waktu ini cukup panjang. Sang akhwatpun kembali ke kampung halaman untuk liburan di kampung. Beberapa hari di rumah, Qodarullah iapun tertimpa musibah. Kecelakaan motor telah membuat salah satu kakinya retak dan harus digips sehingga tidak bisa berjalan kecuali dengan bantuan kruk.

Jadilah liburan panjang ia habiskan untuk beristirahat di rumah. Ramadhanpun semakin dekat, dan perlahan kakinya bisa digunakan untuk berjalan meski sedikit tertatih-tatih.

Lama ia di rumah, membuatnya semakin mengenali bagaimana orangtuanya sekarang.

Malam itu, jatah khutbah setelah sholat tarawih dibawakan oleh ayah si akhwat. Dalam khutbah tarawihnya, sang ayah membawakan tema tentang sunnah-sunnah Hari Raya Idul Fitri. Tiba saatnya ayah mengatakan bahwa disunnahkan untuk mengenakan pakaian yang terbaik. Dan beliaupun menasehatkan bahwa bagi ibu-ibu dan para akhwat hendaknya mengenakan pakaian yang menutup aurat, yang tidak tipis, tidak ketat. Beliaupun mulai mengatakan bahwa aurat wanita menurut para ulama’ ada dua pendapat. Yang pertama wajib ditutup seluruhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Dan yang kedua seluruh tubuh kecuali mata. Mendengar penjelasan sang ayah, akhwat itupun takjub. Tak pernah ia menyangka bahwa ayahnya telah mengetahui hal ini. Dua bulan penuh telah membuat dia semakin mencintai kedua orangtuanya, karena kini Allah telah memudahkan jalan menuju kebenaran untuk kedua orangtuanya.

Inilah Anugerah Terindah

Malam itu, jawaban dari kerinduannya tiba. Beberapa hari lalu ia mengirim sms agar orangtuanya menelepon. Dia katakan bahwa dia sedang rindu. Benarlah, malam setelah beberapa hari berlalu, ayahnya menelepon. Iapun mengangkat telpon dari sang ayah tercinta. Dengan mengobrol berbagai hal sebagai kata pembuka, iapun mulai memberanikan diri untuk menyatakan keinginan yang lama terpendam dalam dirinya. Saat itu, ia tengah membicarakan kabar teman-teman sebaya di kampung yang akan menikah. Ia pun mulai memberanikan diri bertanya,”Aku kapan ya, Yah?”, maka ayah pun menjawab,”Kamu nanti kalau sudah kerja..”. Jawaban beliau datar, namun tak sedikitpun tercampur emosi atau rasa tak suka. Hanya mungkin tersembunyi harapan agar sang anak menyelesaikan kuliahnya dulu. Beliaupun bertanya,”Memangnya sudah pengen?”, sang akhwat pun tak begitu berani mengatakan ya, hanya dia katakan.,”Ya Kalau ayah mengizinkan..”. Sedikit terselip rasa kecewa, namun ia pun mencoba untuk bersabar dan berusaha untuk selanjutnya. Nampaknya pembicaraan sudah cukup lama, sang ayah hendak menyudahi pembicaraan dan menyerahkan telpon kepada ibunya, namun ia katakan,”Tunggu ayah, ada yang ingin ku tanyakan lagi.”

“Apa?”

Sang akhwat pun membulatkan tekad.

“Hemmm, kalau sekarang aku pakai cadar, boleh?”

Belum pula ayah memberi jawaban, sang akhwat menyahut.

“Di sini?”.

“Ya kalau di situ silakan saja.” Jawab ayah.

Betapa gembiranya hati sang akhwat mendengar jawaban dari ayahnya.

“Kalau di kampung?”

Ayah kembali menimpali,

“Ya aurat wanita itu kan ada dua pendapat, pendapat pertama yang ditutup seluruh tubuh kecuali mata. Pendapat kedua boleh tampak wajah dan telapak tangan. Ya kalau ayah ambil pendapat yang kedua..”

“Tapi kalau aku ambil pendapat pertama bagaimana? Kan lebih aman, Yah. Agar tidak digoda…” Jawabnya sehati-hati mungkin. Akhirnya ayah memberi jawaban,

“Ya, kalau ayah sih, asal tidak menyelisihi hukum (syariat) saja.”

“Ya, ayah..” dalam hatinya membuncahlah rasa gembira yang bertambah-tambah.

Sang akhwat pun kembali mengatakan,

“Selama ini aku nunggu izin dari ayah…” Tanpa terasa tumpahlah air matanya. Dia terdiam sejenak, menahan suaranya sehati-hati mungkin agar tidak ketahuan kalau sedang menangis. Terbayanglah bagaimana dulu ayahnya sangat menentang dirinya memakai cadar, kini sang ayah telah menjadi seorang yang dibukakan hatinya oleh Allah. Kebenaran telah menyusup ke dalam hatinya.. Selama ini akhwat tersebut memang telah mengenakan cadar, namun cadar ia tanggalkan ketika masuk kampus dan ketika di kampung… Kini ia tak lagi harus kucing-kucingan untuk mengenakannya. Dan yang menjadi nikmat yang tak terkira adalah ketika kini ayah dan ibunya mulai mengenali jalan kebenaran.

Tangisnya semakin meledak seiring berakhirnya pembicaraan di telpon itu. Antara rasa sedih dan gembira yang tiada terkira. Biarlah satu keinginan terpendamnya belum terkabulkan, karena satu keinginannya kini telah terwujudkan. Karena inilah anugerah terindah yang kini dia rasakan…

Yogyakarta, 15 September 2011

Dikisahkan seorang akhwat yang tidak ingin disebutkan namanya.

Semoga Allah mengistiqomahkan diri dan keluarganya.


10 thoughts on “Inilah Anugerah Terindah..

  1. hehehe… kalo dari cara berceritanya.. ini menceritakan kisah p***lis sendiri hihihhi… kalo kisah orang lain, ndak mungkin bisa sedetail itu.. hihihihi… semangat Mb Nunung ^_^ kisahnya inspiratif bgt…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s