Hasyiyah Tsalatsatil Ushul (Hal 10-11)

Petunjuk untuk pembaca:

Kalimat yang dicetak tebal adalah matan asli dari Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab. Adapun kalimat yang dijelaskan di bawahnya adalah syarah dari Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad Al-Qasimi.

Senin, 26 September 2011

(‘afwan , untuk catatan sebelumnya belum kami terjemahkan karena diambil dari kitab yang berbeda, semoga nanti dimudahkan untuk menerjemahkan)

Yang Ketiga: Berdakwah dengannya (dengan ilmu dan amal).

Jika seseorang telah mendapatkan ilmu agama Islam dengan taufik Allah, dan iapun telah beramal dengannya, maka wajiblah baginya untuk berusaha menegakkan dakwah di atas ilmu dan amal tersebut. Sebagaimana hal tersebut juga dilakukan oleh para Rasul dan para pengikutnya.

Tingkatan paling utama dari ilmu adalah: mendakwahkan kepada kebenaran, jalan petunjuk dan meniadakan kemusyrikan dan kerusakan. Karena tidaklah seorang pun dari nabi itu diutus kepada kaumnya, kecuali dia menyeru untuk ta’at kepada Allah ta’ala, mengesakkan-Nya dalam peribadatan dan mencegah mereka dari kemusyrikan dan perantara yang menuju kepada kepada kemusyrikan tersebut. Dan dia juga mendahulukan dakwahnya dari perkara yang paling penting kepada perkara yang paling penting berikutnya kemudian mendakwahkan hukum-hukum Islam.

Yang keempat: Bersabar dengan gangguan dalam menjalani ketiganya (menuntut ilmu, beramal, dan bersabar).

Hal ini karena barangsiapa yang menegakkan agama Islam, dan menyeru manusia kepada Islam, maka dia telah memikul urusan yang agung. Dan dia telah tegak sebagaimana para Rasul menegakkan dakwah tersebut. Dia bermaksud menjauhkan manusia dari syahwat dan nafsunya, serta menjauhkan mereka dari keyakinan-keyakinan yang sesat, sehingga ketika itu pasti dia kan mendapati orang yang menghalanginya. Hendaklah dia bersabar dan mengharap pahala dari Allah ta’ala. Inilah empat kewajiban yang paling wajib untuk kita ketahui.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ { وَالْعَصْرِ }

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dalam ayat tersebut, Allah telah bersumpah dengan masa. Yaitu waktu yang dengannya seorang muknim akan memperoleh keberuntungan dan amal yang sholeh. Dan waktu yang yang mencelakakan orang yang berpaling dari agama Allah. Masing-masing terdapat pelajaran dan keajaiban bagi orang yang mau memperhatikan.

{ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ }

“Sesungguhnya manusia itu sungguh berada dalam kerugian”

Insan di sini yaitu maksudnya adalah jenis manusia yang mereka berada dalam kerugian,dan itu pasti. Kecuali yang dikecualikan oleh Allah ta’ala dalam surat ini. Yaitu dia yang memiliki tabiat di antarannya:

  • Beriman kepada Allah ta’ala.
  • Beramal shalih untuk dirinya sendiri.
  • Mengajak orang lain untuk mengerjakan amal sholeh pula (berdakwah).
  • Bersabar dari cacian orang terhadapnya.

{ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا }

“Kecuali orang-orang yang beriman”

Allah memberikan pengecualian kepada orang yang beriman karena sesungguhnya mereka tidaklah berada di dalam jurang kerugian. Wajiblah bagi kita untuk bersungguh-sungguh dan bekerja keras untuk mengenal keimanan dan konsisten di atasnya. Untuk mengenali iman tersebut maka dibutuhkan ilmu. Karena tidaklah mungkin amalan itu dilakukan tanpa landasan ilmu. Demikianlah kehidupan manusia yang beriman.

{ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ }

“Dan orang-orang yang beramal sholeh”

Seorang mukmin yang senantiasa beramal sholeh tidaklah mengalami kerugian. Bahkan mereka telah beruntung dan berjaya dalam kehidupannya. Dikarenakan mereka telah membeli akhirat yang kekal dengan dunia yang fana. Ayat ini mendorong kita untuk mempelajari ilmu syar’I, karena seseorang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya tersebut tidaklah memberikan faedah. Dan amal itu sendiri merupakan buah dari ilmu.

{ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ }

“dan orang-orang yang saling menasehati dalam kebenaran”

Yaitu saling mewasiatkan keimanan dan tauhid antara mukmin satu dengan yang lain, dan saling berwasiat dengan Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beramal dengan keduanya kemudian mendakwahkannya.

{ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ }

“dan saling menasehati dengan kesabaran”

Yaitu menyampaikan kewajiban dalam Islam, menegakkan perintah dan hukum Allah, danb termasuk di dalamnya menyampaikan kebenaran yang wajib dan yang sunnah, dan sabar dari berbagai gangguan dalam menjalani hal tersebut. Oleh karena itu barangsiapa yang menegakkan dakwah di jalan Allah, maka sudah pasti dia akan mendapatkan berbagi macam rintangan yang menghadang.

Di dalam surat yang mulia ini, terdapat peringatan kepada manusia bahwa mereka semua senantiasa merugi kecuali yang dikecualikan oleh Allah. Yaitu mereka yang sempurna kekuatan ilmiahnya dalam keimanan kepada Allah, ketaan kepada-Nya yang mana ini adalah kesempurnaan yang ada pada dirinya. Kemudian sempura pula dalam memberikan nasehat kepada orang-orang selain dirinya, dan mengajak orang lain untuk mengerjakannya. Dan dengan kemampuannya dalam hal itu, itulah kesabaran yang menjadi puncak dari kesempurnaan. Dan makna hal ini sangatlah banyak di dalam Al-Qur’an.

# Bersambung#

Terjemah Kitab Al-Hasyiyah ‘Ala Tsalatsatil Ushul

Karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Syarh Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad al-Qasimi

Bersama Ustadz Abu Sa’ad M. Nur Huda, Lc. MA.

Setiap Senin Jam 16.00-17.15 @Wisma Raudhatul ‘Ilmi


Sumber:

Al-Hasyiyah ‘ala Tsalatsatil Ushul, Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad Al-Qasimi, Ad-Dar As-Salafiyyah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s