Antara Ayah, Anak, dan Seekor Keledai

Pagi hari kemarin, saat mendengarkan streaming radiorodja, saya dibuat terkesima dengan sebuah kisah yang diceritakan oleh  ustadz yang mengisi tausiyah. Cerita ini terkait dengan anjuran agar kita tidak memperhatikan pujian maupun keinginan orang lain terhadap apa yang kita lakukan. Tentu saja hal ini harus diletakkan pada tempat yang tepat. Beginilah sekilas ceritanya, yang saya ambil secara makna, bukan lafalnya.

Suatu hari, tatkala seorang ayah dan anaknya sedang mengadakan perjalanan dengan seekor keledainya, kala itu sang anak naik di atas keledai dan ayahnya menuntun keledai tersebut. Ketika orang-orang melihat kejadian itu, mereka pun berkomentar.

“Lihatlah, betapa tidak berbaktinya anak itu. Ia enak naik di atas keledai, sementara ayahnya harus menuntun keledainya.”

Mendengar hal itu, ayah dan anak itupun bertukar posisi. Kini ayahnya lah yang naik keledai dan anaknya berganti menuntun keledainya. Melihat hal itu, orang-orang pun berkomentar.

“Lihatlah orangtua itu. Betapa teganya ia membiarkan anaknya menuntun keledai, sementara ia enak duduk mengendarainya. apa dia tidak kasihan pada anaknya yang kecapaian?”

Kembali mendengar komentar orang-orang itu, sang ayah dan anaknya kembali berpikir keras. Akhirnya mereka mengambil inisiatif untuk menaiki keledainya bersama-sama. Jadilah ayah dan anak itu kini berada di atas keledainya. Melihat hal itu, orang-orangpun kembali berkomentar.

“Lihatlah, betapa teganya ayah dan anak itu, keledai sekecil itu mereka tunggangi berdua. Apa mereka tidak merasa kasihan dengan keledai yang ditungganginya?”

Jengkel dengan komentar orang-orang, maka ayah dan anak itupun turun dari keladai, dan membiarkan keledai itu menganggur. Melihat hal itu, orang-orang pun tak hentinya bekomentar lagi.

“Lihatlah, betapa bodohnya mereka. Mereka punya keledai untuk dikendarai, malah mereka biarkan keledainya menganggur tidak dinaiki.”

Kawan, itulah gambaran sikap manusia. Betapa banyak di antara mereka yang suka berkomnetar ini dan itu, tatkala kita melakukan sesuatu. Dan sering pula omongan manusia memupuskan harapan kita. Hal ini tentu saja perlu ditempatkan secara bijak. Dalam artian, ketika melakukan apa-apa yang memang itu merupakan perintah ataupun larangan Allah dan Rasul-Nya, maka tidaklah semestinya kita menghiraukan omongan-omongan miring manusia tentangnya. Misalnya, komentar-komentar kurang baik manusia saat kita mengenakan jilbab syar’i, dianggap kuno, kurang modis, ketinggalan zaman, dan lain sebagainya, maka pantaslah jika kita mengacuhkan komentar-komentar itu. Begitu pula ketika seorang laki-laki berusaha mengikuti sunnah nabi dengan mengenakan celana di atas mata kaki, maka tidaklah perlu kita hiraukan omongan manusia yang mengatakan “kebanjiran”, “aliran ini itu”, dan lain sebagainya, karena memang itulah yang diperintahkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kecuali jika memang apa yang kita lakukan ternyata murni terdapat kesalahan yang menyelisihi syari’at, maka dengarkanlah. Apalagi jika yang menegur adalah orang yang memang sudah dipercaya tingkat pemahaman ilmu agamanya. Sehingga kitapun yakin, tegurannya tidak lain dan tidak bukan adalah berlandas kepada aturan agama.

Hikmah yang bisa kita ambil dari kisah di atas, hendaknya kita tidak mengharapkan pujian dan komentar orang saat kita berusaha mengamalkan perintah dan larangan Allah dan rasul-Nya. Cukuplah Allah yang menilai, setiap amal yang kita lakukan, karena betapa banyak komentar atau pujian manusia justru menjerumuskan. Allahu a’lam.


4 thoughts on “Antara Ayah, Anak, dan Seekor Keledai

    1. pertama, ingatlah bahwa amal yang kita lakukan yang kemudian membuat orang memuji kita itu semata-mata merupakan nikmat dan ujian dari Allah.

      Kedua, berdoalah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dipuji, اَللَّهُمَّ لاَ تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا يَقُوْلُوْنَ، وَاغْفِرْلِيْ مَالاَ يَعْلَمُوْنَ وَاجْعَلْنِيْ خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ
      ““Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan”. (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 761. Isnadnya dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 585. Kalimat dalam kurung tambahan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 4/228 dari jalan lain.)

      Ketiga, hendaknya kita senantiasa memperbaharui niat kita dalam setiap amal perbuatan, berusaha ikhlas dan tidak mengharapkan pujian orang. memang fitroh manusia suka dipuji, namun ketika rasa senang mulai muncul, mohonlah ampun kepada Allah dan ingatlah, bahwa kita bukan apa2 seandainya bukan karena rahmat dan pertolongan Allah, sehingga hanya Allah-lah yang layak untuk dipuji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s