Wahai Jiwa

Jiwa

Ingin ku bercengkerama denganmu

Bukan untuk mengajakmu bercanda

Bukan pula untuk merenungi megah dan indahnya dunia

Wahai jiwa

Ada yang ingin ku tanya

Mengapa begitu sulit engkau tersentuh?

Telah mengeraskan engkau?

Telah membatukah engkau?

Kapan?

Kapan kau terakhir kali menangis?

Kapan terakhir kali kau bersimpuh

Merengek-rengek di hadapan Rabb-Mu

Kapan terakhir kali kau bangun di malam yang dingin

Malam yang membuat setiap bulu kuduk merinding

Kapan kau terakhir kali mambasuhkan air di wajahmu kala malam itu?

Kapan pula tekahir kali kau tertunduk khusyu’ dalam sujudmu

Meronta dengan doa-doa yang membuat jiwa semakin merasa berdosa?

Tidahkah kau ingat,

Kala Nabi Adam ‘Alahissallam bersimpuh, bertaubat kepada Rabb-Nya..

Robbanaa dzalamnaa anfusanaa wa in lam taghfirlanaa wa tarhamnaa la nakunanna minal khosiriin…

 

Ingatlah ketika seorang ayah yang telah tua renta

Berpesan kepada anaknya ketika dia hendak menghembuskan nafas terakhirnya

“Wahai anakku, ke sinilah

Aku ingin berpesan kepadamu

Saat ayah meninggal nanti,

Bakarlah jasadku

Lalu kumpulkanlah abu pembakaraan itu,

Buang setengahnya di pegunungan..

Lalu buang pula setengahnya lagi ke lautan luas”

Saat sang anak bertanya,

“Wahai ayah, mengapa engkau memerintahkan hal itu?”

Tak pula dia bergumam, sang ayahpun hanya berharap agar sang anak yang berbakti melakukan hal itu

Ketika semua telah berlalu, ketika sang anak telah melaksanakan perintah sang ayah, kala itulah dengan kuasa-Nya, Allah mengumpulkan seluruh abu yang merupakan jasad dari si tua renta itu,

Dialah yang mampu membangkitkan kembali hamba yang telah meninggal dalam bentuk apapun, dan di manapun dia berada…

Saat sang hamba menghadap Rabbnya, dia pun ditanya..

“Wahai hambaku, mengapa engkau melakukan hal itu?”

Seketika itu menangislah sang hamba,

“Ya Allah, saya takut…

Saya Takut dengan dosa-dosa yang telah banyak saya lakukan..

Saya bergelimang maksiat saat di dunia…

Dan saya takut ketika harus menghadap-Mu dalam keadaan bermaksiat…”

Dan, Hanya Allah-lah Tuhan yang Maha Pengampun lagi Mahav Penyanyang…

Wahai, Jiwa

Tidakkah engkau pernah mendengar, Allah Ta’ala berfriman kepada Hambanya…

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَاكَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّماَءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطاَياَ ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكْ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً [رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح ]

Dari Anas radiyallahu ‘anhu, Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih)

Lalu, apa lagi yang membuat hati tak tergugah wahai Jiwa?

Jangan biarkan engkau selalu terpuruk dengan keadaanmu ini..

Karena tak ada yang bisa menjamin,

Engkau kembali menghadap Rabbmu dalam keadaan bersih tanpa dosa dan noda…

Di ujung kegersangan jiwa

Yogyakarta, 18 Rabiul Awwal 1433 H/ 11 Februari 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s