Semudah Itukah Kau Ucapkan Janji?

oleh Aufanuri Ihrishii pada 13 Juli 2010 pukul 9:35  (catatan fb)

 

Lama terasa jari-jemari ini tak melukiskan rentetan kata. Rindu sudah, ingin rasanya kembali menuangkan pikiran dalam bait-bait huruf yang tersusun rapi dalam catatan ini. Menuangkan seikat kisah penuh hikmah perjalanan hidup yang penuh dengan getir, pahit, manis, asam, asin dan sebagainya.

Masih dengan tema yang tak pernah membuat jenuh untuk membaca dan membahasnya. Bisa dibilang ini tentang “cinta”.Karena sesungguhnya, tema ini tak kan pernah lepas dari kehidupan kita. Ada yang dibuat bahagia dengannya, namun ada pula yan dibuat kecewa atas namanya. Ya, atas nama “cinta” tekadang orang dibuat membabi buta. Entahlah, tak perlu banyak prolog untuk menjelaskan tentang cinta. Karena bukan ini yang ingin saya tuliskan. Saya hanya ingin menuliskan sebuah kisah hikmah bagi Anda, semoga bermanfaat dan kita bisa mengambil benang merah untuk kita pecahkan bersama…

————

Hari-hari ini adalah hari sendu bagiku. Tiada hari yang ku lalui melainkan kan meneteslah air dari pelupuk mata ini. Bukan fisikku yang tengah sakit hingga aku tak bisa menahan rasa sakit itu. Bahkan kurasakan ini lebih sakit dari penyakit fisik yang ku rasakan. Jika penyakit fisik bisa hilang bekasnya kelak ketika telah sembuh total, sedangkan penyakit ini, aku tak tahu, karena pasti kan membekas dalam pikiran meski berjuta cara kulakukan untuk melupakan.

Penyakit itu ada di dalam hati. Rasa sakit yang menghampiri hanya karena kata-kata indah yang singgah ke hati ini.

Kembali air mata ini terjatuh. Biarlah kurajut kisah tentang sebab mengapa air mata ini enggan untuk berhenti. Terlalu sulit bagiku untuk menahannya. Karena aku seorang wanita. Yang tercipta dengan fisik yang lemah dan perasaan yang begitu mendominasi.

Beberapa waktu yang lalu, hati ini tak bisa berbohong untuk mengatakan bahwa aku tengah berbunga-bunga. Telah hadir seorang “pangeran berkuda putih” yang menyampaikan kalimat indah pada diri ini. Sebuah janji suci untuk menikahi. Ya, tak bisa kuingkari. Aku bahagia. Bahagia sekali. Mungkin memang dialah jodoh yang telah Allah sediakan untukku.

Pikiranku kini tak bisa lepas dari memikirkan “dia, dia dan dia”. Dia lelaki baik-baik. Dan mungkin juga yang telah menjadi salah satu jalan bagiku dalam menempuh kebenaran ini. Ya, dia ikhwan sholeh. Tak ada alasan bagiku untuk tidak menyetujui permintaannya. Pikiranku pun tak bisa lepas dari memikirkan berjuta kebaikkannya. Dan aku pun telah meng-iya-kan permintaannya.

Hari berganti hari. Mungkin terlalu singkat untuk rangkaian kisah ini. Namun, tak perlu aku berpanjang-panjang dalam menuliskan kisah luka ini. Datang kabar darinya melalui sms. Bahwa ia tak bisa memenuhi janjinya untuk menikahi. Dengan jujur dia katakan. Telah ada wanita lain yang telah menyetujui janjinya pula untuk dinikahi. Dan wanita itu dalah prioritas utama baginya.

Aku terkejut. Sedikit meyakinkan diri. Seketika itu terselip rasa kecewa yang sangat dalam kepadanya. Jadi selama ini dia anggap apa diriku? Hanya sebagai “cadangan” jika ternyata akhwat yang dia prioritaskan tak menyetujui permintaannya?

Aku tak bisa menerimanya,maka ku balas smsnya, “kamu sudah janji, maka kamu harus melaksanakan janjimu itu. Dan kamu telah menanam benih di hati ini. Kamu sudah membuatku sakit hati..”
Namun agaknya diapun tak terima dengan sikapku. Hingga dia pun menanggapi, “hey, aku sudah janji dengan si X, jadi perjanjian denganmu batal.”

Semudah itu kah? Semudah itukah dia menyampaikan janji kemudian dalam sekejap mengingkarinya? Dan air mata inipun meleleh. Pikiranku kalut. Terpikir dalam benak. Jadi, bagaimana selama ini dia menganggap kedudukan seorang wanita? Seorang akhwat itu harusnya dimuliakan, bukan dipermainkan. Semudah itu dia mebuat janji kepada wanita, sementara aku tak tahu apa yang dilakukannya selama ini. Ternyata janji itu tak hanya untuk diriku, tapi juga kepada wanita lain.

Rabb, aku menyesal. Kenapa aku menyetujui perkataannya dulu? Apakah aku terlalu bodoh? Apakah aku terlalu ceroboh? Apakah aku terlalu mudah termakan oleh kata-katanya?
Rabb, bantu aku untuk menghilangkan rasa sakit di hati ini. Ku ingin pergi. Jauh. Hingga bisa melupakan semua ini. Tapi ke mana? Ada keinginan terbersit di hati ini untuk meninggalkan semua. Melepas hijab ini, pergi ke negeri kuffar, hingga tak ada yang melihatku kembali kepada kejahilan di sana.

Tapi…. Engkau Maha Melihat…
Tak mungkin aku bisa bersembunyi dari-Mu..
Dan jika selama ini aku berubah karena manusia, maka ketika dia membuatku kecewa niscaya langkah itulah yang akan aku ambil. Namun, aku tak ingin hal itu terjadi padaku. Yang kubutuhkan saat ini adalah meluruskan niat. Meluruskan tujuanku selama ini. Maka bantu aku agar niat ini tetap terjaga karena mencari keridhaan-Mu.. Hingga kan tetap ku pegang erat hidayah ini di dalam hati, lisan dan perbuatanku…
Semoga aku bisa mengambil pelajaran atas apa yang terjadi…

Refleksi Penulis:
Kisah di atas, saya yakin tidak hanya terjadi pada satu atau dua orang saja. Intinya sama, tentang sebuah janji akan menikahi dari seorang ikhwan kepada akhwat. Bahkan mereka yang dikenal telah “ngaji”. Penulis banyak mendapati pertanyaan semacam ini di majelis ta’lim yang penulis ikuti. Sehingga penulis menyimpulkan, kasus semacam ini telah banyak terjadi pada diri ikhwan akhwat sekalian.
Berkaca pada kisah di atas, hendaknya kita sebagai akhawat bisa mengamabil pelajaran. Janganlah mudah menerima janji akan menikahi dari seorang ikhwan jika memang belum jelas waktunya kapan. Kalaulah sudah jelas, hendaknya tidak dalam hitungan waktu menunggu yang terbilang lama (tahun misalnya). Hal ini adalah cobaan besar. Karena dalam masa menunggu, ada saja ujian yang menghadang.
Tunggu ya akhwat, jangan tergesa mengatakan “YA”. Karena engkau tak bisa menjamin dirimu sendiri akan sampai umur berapa. Engkau tak bisa menjamin terjaganya htaimu dari memikirkannya. Engkau tak bisa menjamin dirimu tidak terjerembab dalam maksiat setelah menyetujuinya. Tahanlah dirimu, Sehingga, rasa kecewa itu bisa dicegah jika sewaktu-waktu lelaki itu tak konsisten dengan perkataannya.
Dan yang lebih nikmat lagi, kita lebih bisa menjaga hati ini ketika tak dihinggapi oleh cinta yang belum halal untuk dijalani.

Wallahul musta’an.

*Penting!
Saudariku yang dirahmati Allah, kisah di atas menggunakan kata ganti “aku” buknalah berarti merupakan pengalaman pribadi penulis. Penulis hanya mencoba untuk mengajak pembaca untuk bisa merasakan apa yang dialami oleh saudari kita tersebut. Sehingga kita pun bisa menempatkan diri, bagaimana seandainya hal itu juga terjadi kepada kita. Wallahu a’lam

———-

Hamba yang Faqir di hadapan Allah
Aufanuri Ihrishii


2 thoughts on “Semudah Itukah Kau Ucapkan Janji?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s