Kalau Kuliah OK, Agama Harus Lebih OK

Panggil saja dia Si A. Dengan sedikit bangga dan gembira, kini A telah menyandang status “MaBa (Mahasiswa Baru)”. Mungkin bahagia, mungkin juga bangga, karena kini A telah menjadi siswa yang “maha”. Karena saat inilah menurutnya satu langkah menuju gerbang terwujudnya idealita dan cita-cita yang telah diimpikannya.

Beragam bayangan terkadang tergambar di benak sang MaBa. Berbagai pilihan dari yang positif hingga negatif pun terbentang luas menanti-nanti sambutan sang Mahasiswa. Lalu, kira-kira aktivitas apa ya yang ‘pas’ untuk dilakukan oleh seorang mahasiswa. Aktivis organisasikah? Study-Oriented kah? Atau cuma ingin jadi mahasiswa biasa-biasa saja, tanpa aktivitas yang menyibukkan agar punya waktu untuk “kongkow-kongkow” ke sana kemari? Baiklah kawan, jika demikian, ku ajak engkau untuk terus membaca kata demi kata yang tersusun ini hingga engkau selesai dan memahami apa yang tertulis di dalamnya.

Kawanku yang semoga Allah selalu merahmati diriku dan dirimu. Jika kita mau sedikit merenung, ternyata waktu kita tak seluruhnya habis untuk duduk di bangku kuliah saja. Namun terkadang karena saking tak bisa mengatur waktunya, kita pun hanya tercebur ke dalam lamunan dan kesia-siaan belaka. Berjam-jam hanya habis untuk mengurus facebook, main PS, ngobrol ke sana-sini, dan berbagai aktivitas lain yang sebenarnya tak memberikan manfaat bagi diri kita. Padahal Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu telah mengabarkan, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Salah satu tanda baiknya islam seseorang adalah ia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan yang lainnya juga demikian).

Kawan, pernahkah terlintas dalam benak kita, bahwa waktu yang telah Allah berikan kepada kita ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban? Lalu akan kita kemanakan waktu ini, agar nanti kita bisa mempertanggungjawabkannya dengan baik di hadapan Allah kelak? Sungguh bagus seseorang yang berkata:

Umur itu sangat singkat

Untuk sekedar dihitung-hitung saja

Maka gunakanlah waktumu

Sesungguhnya lewatnya waktu itu seperti jalannya awan

Allah Ciptakan Kita Bukan Tanpa Tujuan

Orang menciptakan pesawat terbang tentu punya tujuan. Orang menciptakan komputer tentu punya tujuan. Orang menggunakan pensil tentu pula punya tujuan. Jika dalam perkara sepele saja sudah bisa dipastikan ada tujuannya, apatah lagi dalam hal perkara yang sangat besar? Lalu, pernahkah terlintas dalam benakmu, untuk apa Allah menciptakanmu?? Adalah musibah yang sangat besar, jika hingga kini ternyata kita tak tahu, untuk apa Allah menciptakan diri kita.

Pernahkah terlintas dalam benakmu, tentang seorang akademisi yang mampu meraih titel tertinggi dalam pendidikannya. Entah akan bergelar profesor ataukah doktor, atau apalah istilah lainnya. Sebuah fakta yang sangat mencengangkan (dan ini banyak terjadi), ketika dia telah meraih gelar tertinggi dalam hidupnya tersebut, ketika seluruh waktunya telah tergadai demi “pendidikan”, ketika rambutnya telah penuh dengan uban, ketika itu pula, dia belum juga mengenal Tuhannya. Dia belum pula sempat mengenal siapa Nabinya. Apatah lagi agama, dia pun bungkam ketika ditanya tentangnya. Apakah hanya untuk itu kita habiskan umur yang diberikan oleh Allah ini?

Kawan, mungkin engkau tak asing lagi dengan ayat Allah yang menjelaskan untuk apa engkau diciptakan. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56)

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Dalam ayat tersebut Allah menegaskan kepada kita (makhluknya dari kalangan jin dan manusia) bahwa tujuan penciptaan kita di dunia ini hanyalah untuk beribadah. Lalu apakah ibadah itu? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan makna ibadah, yaitu segala perkara yang dicintai dan diridhai Allah baik berupa perkataan maupun perbuatan, berupa amalan dhahir (yang tampak) maupun yang batin (tidak tampak). Nah, dari pengertian tersebut, jelaslah bagi kita bahwa yang namanya ibadah itu sangatlah luas. Bahkan mungkin tidak akan cukup jika disebutkan satu persatu di lembaran yang ringkas ini. Lalu, apa yang harus kita lakukan agar kita tahu apa sajakah jenis-jenis ibadah itu? Jawabannya tak lain dan tak bukan adalah dengan menuntut ilmu agama ini. Bukankah demikian?

Sudah Saatnya Kita Tentukan Arah

Hidup di dunia ini ibarat musafir. Dunia ini adalah tempat pengembaraan. Mungkin kita butuh sedikit waktu untuk beristirahat dan berteduh, namun tak lama kemudian kita pun kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuan. Akhiratlah tujuan itu. Ke akhiratlah kita akan menuju.

Perhatikanlah perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya,

“Jadilah kamu di dunia ini seperti seorang pengembara atau musafir yang berkelana.” (HR. Bukhari: 6416).

Lihatlah diri seorang musafir, bukankah hatinya selalu rindu untuk kembali ke kampung halamannya? Diapun tak ingin berlama-lama tinggal di tempat yang bukan kampung halamannya. Begitulah kita, hendaknya kitapun rindu untuk kembali ke kampung akhirat, karena di sanalah tempat tinggal sebenarnya, tempat tinggal selama-lamanya. Sedangkan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau belaka.

Perhatikanlah wahai kawanku, Allah Ta’ala telah mengumpamakan dunia yang telah diciptakan-Nya sebagai tempat tinggal sementara untuk kita,

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Kawan, mungkin engkau bertanya-tanya, kalau demikian, kenapa Allah Ta’ala menciptakan kita di dunia ini? Mari, kita perhatikan lagi ayat berikut ini,

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2).

Allah ingin menguji, siapakah di antara hamba-hamba-Nya yang paling baik amalnya. Maksud yang paling baik di sini, bukan berarti yang paling banyak. Akan tetapi yang paling baik adalah yang paling ikhlas dan paling benar (menurut Al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaiahi wasallam).

Kini kita pun tahu, bahwa kita di dunia ini tidak untuk selamanya. Maka dari itu, sudah saatnya kita tentukan arah kehidupan kita. Mungkin saat ini kita sedang merencanakan berjuta cita-cita untuk meraih kesuksesan masa depan kita. Tak salah memang. Silakan rancang cita-cita yang tinggi, namun hendaknya kita pun harus siap  dengan kepastian yang akan menghampiri. Maut, yang semua orang tak akan mampu mempercepat maupun menunda kedatangannya.

Jadikan setiap detik yang kita lalui adakah detik-detik yang berarti, sehingga mampu menyelamatkan kita di hari yang tak ada seorangpun yang mampu membela kecuali amal sholeh yang pernah kita lakukan di dunia ini.

Bukan Kemustahilan Jika Kuliah Ok, Agamapun Ok

Bukan hal yang tak mungkin, jika seorang mahasiswa itu mampu menyeimbangkan antara belajar di kampus dan belajar agama. Asal kita bisa mengatur waktu dengan baik, maka sukses kuliah dan sukses ‘ngaji’ pun bukan sekedar impian. Ketika pagi hingga siang kita disibukkan dengan aktivitas kuliah, maka sore haripun bisa kita gunakan untuk menuntut ilmu agama.

Kan kunukilkan contoh untukmu, adanya sosok yang bisa menjadi pemompa semangatmu untuk tetap memperhatikan ilmu agama di samping ilmu dunia yang engkau cari. Karena perhatiannya terhadap waktu, ada di antara mahasiswa di kota Jogja ini yang bisa menghafal (hafidz) Al-Qur’an ketika dia telah menyelesaikan kuliahnya. Ada pula yang menguasai ilmu akidah dengan baik serta beliau pun menulis buku-buku terkait akidah padahal beliau adalah seorang dokter. Ada pula yang bisa menguasai Bahasa Arab dengan baik padahal dia adalah seorang sarjana Biologi. Semua itu bukan hal yang aneh, karena semua berasal dari pertolongan Allah kemudian usaha yang sungguh-sungguh dari diri pribadi mereka.

Begitupun kita, andai kita punya cita-cita yang tinggi, andai kita kobarkan semangat yang membara, Insyaa Allah akan diberikan kemudahan. Bukankah kita selalu berusaha keras untuk meraih apa yang kita cita-citakan? Jika kita punya semangat tinggi untuk meraih cita-cita di dunia, lalu apalagi dengan cita-cita akhirat yang lebih mulia? Harusnya semangat kita lebih jauh membumbung tinggi. Karena pada hakikatnya surga itu sangatlah mahal, dan hanya orang-orang yang istimewalah yang mampu meraihnya. Bukan dengan harta, bukan pula dengan tahta dunia, namun dengan ketaqwaan yang selalu tertancap di dalam dada.

Namun, ketika kita memang tidak mampu meraih secara maksimal kedua hal tersebut, maka ambillah pilihan yang akan menyelamatkan kehidupan yang paling abadi. Akhirat menjadi tujuan utama yang akan membawa pada kebahagiaan yang hakiki. Raihlah dunia sewajarnya, jangan “ngoyo(rakus)”, cukup sebagai bekal perjalanan hidup yang sementara di dunia ini.

 

Kawanku, Pilihlah Teman Bergaul yang Baik

Duhai kawanku yang semoga Allah selalu merahmatiku dan dirimu. Sudah saatnya kita selektif dalam memilih teman. Karena akhlak yang kita miliki tidak akan jauh dari akhlaq teman keseharian kita. Ibarat berteman dengan penjual minyak wangi, boleh jadi dia akan memberikan minyak wangi tersebut kepada kita, kalau tidak, kitalah yang membeli darinya atau boleh jadi kita akan terperciki bau wangi karena selalu bersamanya. Dan teman yang buruk itu ibarat pandai besi. Boleh jadi jika kita dekat-dekat maka kita akan ikut terbakar atau bisa saja terperciki bau yang tidak sedap. Jadi, siapa yang menjadi temanmu saat ini? Penjual minyak wangi atau pandai besi?

Kawan, sudah saatnya ku gandeng erat tanganmu. Kita satukan asa, melangkahkan kaki bersama, dan membangun prinsip indah menuju keridhaan Allah Ta’ala, sambil ku katakan padamu, Kawanku, mari bersama menuntut ilmu. Agar tentram hatimu, agar tenang pikiranmu, hingga rahmat Allah pun akan senantiasa meliputimu… Uhibbuki fillah (aku mencintaimu karena Allah).”  ^_^

ceRIa

25.11.12


One thought on “Kalau Kuliah OK, Agama Harus Lebih OK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s