“Nggak Sumpek Kok, Pak”

Hari ini ada kisah yang unik dan cukup menarik bagi saya. Dulu ketika awal-awal mengenakan hijab, saya paling khawatir menghadapi saat seperti ini. Takut dikomentari ba bi bu, takut disindir dosen, dan sekalinya disindir, saya akan berkaca-kaca menahan tangis di balik hijab yang saya kenakan. Namun pagi ini serasa ada yang berbeda. Dengan santai dan sedikit tegas, Allah menguatkan hati saya untuk bertahan dan berani menunjukkan inilah prinsip agama yang saya pegang.

Pagi ini, saat saya masuk ke Subbag Perlengkapan dalam rangka meminta dibuatkan surat ijin observasi untuk penelitian skripsi, duduklah dua orang bapak2 muda pengurus di bagian tersebut.

“Kira-kira bisa jadi kapan ya, Pak?” Tanya saya pada salah seorang Bapak yang kemudian membuka surat yang saya tulis dengan tangan kemudian mengecek ulang. Belum sempat bapak tersebut menjawab, karena mendapati beberapa bagian yang belum terisi, datanglah seorang Bapak paruh baya dari arah dalam ruangan tersebut.

Sayapun melengkapi informasi yang kurang dalam surat tersebut. Ketika saya tengah sibuk menulis surat, Bapak paruh baya itu tiba-tiba melontarkan pertanyaan kepada saya.

cadar“Mbak, pakai pakaian kayak gitu ga sumpek to Mbak?” Tanya sang Bapak yang keheranan melihat saya mengenakan jubah hitam lengkap dengan cadarnya.

“Nggak tuh Pak.” Jawab saya tegas.

“Hii… “Bapak itupun mengangkat bahu dengan ekspresi seakan kegerahan. Tak cukup sampai di situ, sang Bapak pun kembali bertanya.

“Lah kalo kayak gitu nanti kalo ada yang naksir gimana Mbak?” Tanya sang Bapak lagi

Dengan santai tapi tegas saya pun menjawab, “Saya sudah nikah Pak.”

Kontan ketiga bapak yang ada di ruangan tersebut tertawa mendengar jawaban saya. Sang Bapak yang mengoreksi surat saya tadipun ikut angkat bicara.

“Makanya ditutup ya Mbak karena sudah nikah.”

“Soalnya saya nggak nerima lagi Pak.” Jawab saya menegaskan. “Kalau mau ketemu ya dibuka Pak.” Lanjut saya.

“Owh, dibuka.” Kata bapak paruh baya.

“Kan ada orangtua..” maksud saya, saat nadzor kan ditemani orangtua, jadi bisa buka cadar.

Bapak itu pun berusaha mengemukakan alasan, mengapa mungkin beliau merasa kurang sreg dengan pakaian yang saya kenakan.

“Masalahnya, saya itu sering menjumpai orang kayak Mbak ini, pakaiannya sama tapi Na’udzubillah perilakunya kok nggak baik. Semoga mbak nggak ya.”

“Aamiin, doakan saja Pak.” Timpal saya.

“Ya, punya pemahaman agama itu ya boleh-boleh saja, tapi ya jangan berperilaku yang buruk.. Semoga Mbak ini nggak kayak gitu ya.. “ kata sang Bapak.

“Nggak Pak, Insyaa Allah..” jawab saya santai, mau tersenyum pun kan tetap saja nggak kelihatan.

Baiklah, saya pun selesai melengkapi isi surat tersebut sembari menjawab dan mendengarkan perkataan bapak tadi. Saya katakan ke Bapak yang mengurus surat saya.

“Sampun.”

Akhirnya saya pun pamit keluar sembari menyapa sang Bapak paruh Baya.

“Mari Pak, Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikum salam.” Jawab Bapak-Bapak di ruangan itu serentak.

Hufff,,, lega rasanya keluar dari ruangan itu, setidaknya Allah telah menolong saya untuk menjawab pertanyaan Bapak paruh baya tadi. Semoga tidak ada kesalahpahaman, dan semoga Bapak tadi bisa menerima prinsip saya tentang hijab serta meluruskan pemahaman sang Bapak,

Bahwa tidak semua yang berpenampilan sama, perilakunya juga dianggap sama…


3 thoughts on ““Nggak Sumpek Kok, Pak”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s